oleh: M. Rasyid Ridlo
Pelajaran mana yang lebih baik daripada sebuah keteladanan?
Terlebih dalam kondisi ketika banyak pemimpin negeri kita yang tak amanah.
Namun tak selayaknya kita berputus asa, justru kita wajib berdoa. Semoga Allah
kan hadirkan sosok pemimpin teladan seperti sejarah merekam Umar bin Khattab
dan kepemimpinan beliau dalam kisah inspirasi berikut...
***
Krisis itu masih melanda Madinah. Korban sudah banyak
berjatuhan. Jumlah orang-orang miskin terus bertambah. Khalifah Umar Bin Khatab
yang merasa paling bertanggung jawab terhadap musibah itu, memerintahkan
menyembelih hewan ternak untuk dibagi-bagikan pada penduduk.
Ketika tiba waktu makan, para petugas memilihkan untuk Umar
bagian yang menjadi kegemarannya: punuk dan hati unta. Ini merupakan kegemaran
Umar sebelum masuk islam. “Dari mana ini?” Tanya Umar.
“Dari hewan yang baru disembelih hari ini,” jawab mereka.
“Tidak! Tidak!” kata Umar seraya menjauhkan hidangan lezat
itu dari hadapannya. “Saya akan menjadi pemimpin paling buruk seandainya saya
memakan daging lezat ini dan meninggalkan tulang-tulangnya untuk rakyat.”
Kemudian Umar menuruh salah seorang sahabatnya,” Angkatlah
makanan ini, dan ambilkan saya roti dan minyak biasa!” Beberapa saat kemudian,
Umar menyantap yang dimintanya.
Kisah yang dipaparkan Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya
ar-Rijal Haular Rasul itu menggambarkan betapa besar perhatian Umar terhadap
rakyatnya. Peristiwa seperti itu bukan hanya terjadi sekali saja. Kisah tentang
pertemuan Umar dengan seorang ibu bersama anaknya yang sedang menangis
kelaparan, begitu akrab di telinga kita. Ditengah nyenyaknya orang tidur. Ia
berkeliling dan masuk sudut-sudut kota Madinah. Ketika bertemu seorang ibu dan
anaknya yang sedang kelaparan, Umar sendiri yang pergi mengambil makanan. Ia
sendiri juga yang memanggulnya, mengaduknya, memasaknya dan menghidangkannya
untuk anak-anak itu.
Keltika kelaparan mencapai puncaknya Umar pernah disuguhi
remukan roti yang dicampur samin. Umar memanggil seorang badui dan mengajaknya
makan bersama. Umar tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum badui itu
melakukannya terlebih dahulu. Orang badui sepertinya sangat menikmati makanan
itu. “Agaknya Anda tidak pernah merasakan lemak?” Tanya Umar.
“Benar,” kata badui itu. “Saya tidak pernah makan dengan
samin atau minyak zaitun. Saya juga sudah lama tidak menyaksikan orang-orang
memakannya sampai sekarang,” tambahnya.
Mendengar kata-kata sang badui, Umar bersumpah tidak akan
makan lemak sampai semua orang hidup seperti biasa. Ucapannya benar-benar dibuktikan.
Kata-katanya diabadikan sampai saat itu, “Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin
orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenayangan, aku ingin orang
terakhir yang menikmatinya.”
Padahal saat itu Umar bisa saja menggunakan fasilitas Negara.
Kekayaan Irak dan Syam sudah berada ditangan kaum Muslimin. Tapi tidak. Umar
lebih memilih makan bersama rakyatnya.
Pada kesempatan lain, Umar menerima hadiah makanan lezat
dari Gubernur Azerbeijan, Utbah bin Farqad. Namun begitu mengetahui makanan itu
biasanya disajikan untuk kalangan elit, Umar segera mengembalikannya. Kepada
utusan yang mengantarkannya Umar berpesan, “Kenyangkanlah lebih dulu rakyat
dengan makanan yang biasa Anda makan.”
Sikap seperti itu tak hanya dimiliki Umar bin Khattab.
Ketika mendengar dari Aisyah bahwa Madinah tengah dilanda kelaparan.
Abdurrahman bin Auf yang baru pulang dari berniaga segera membagikan hartanya
pada masyarakat yang sedang menderita. Semua hartanya dibagikan.
Ironisnya, sikap ini justru amat jauh dari para pejabat
sekarang. Penderitaan demi penderitaan yang terus melanda bangsa ini, tak
meyadarkan mereka. Naiknya harga kebutuhan pokok sebelum harga BBM naik dan
meningkatnya jumlah orang-orang miskin, tak menggugah hati mereka. Bahkan,
perilaku boros mereka kian marak.
Anggota Dewan yang ditunjuk rakyat sebagai wakil, justru
banyak yang berleha-leha. Santai dan mencari aman. Pada saat yang sama, para
pejabat yang juga dipilih langsung, tak pernah memikirkan rakyat. Yang ada
dalam benak mereka , bagaimana bisa aman selama lima tahun ke depan.
Mereka yang dulu vocal mengkritik para pejabat korup dan
zalim, justru kini diam. Ia takut kalau kursi yang saat ini didudukinya lepas.
Sungguh jauh beda dengan Abu Dzar al-Ghifari, seorang sahabat Rasulullah saw.
Ketika suatu saat dia cukup pedas mengkritik para pejabat di Madinah, Ustman bn
Affan memindahkannya ke Syam agar tak muncul konflik. Namun, ditempat inipun ia
melakukan kritik tajam pada Muawiyah bin Abu Sufyan agar menyantuni fakir
miskin.
Muawiyah pernah mengujinya dengan mengirimkan uang. Namun
ketika esok harinya uang itu ingin diambilnya kembali, ternyata Abu Dzar telah
membagikannya pada fakir miskin.
Sesungguhnya, negeri kita ini tidak miskin. Negari kita
kaya. Bahkan teramat kaya. Tapi karena tidak dikelola dengan baik, kita menjadi
miskin. Negeri kita kaya, tapi karena kekayaan itu hanya berada pada
orang-orang tertentu saja, rakyat menjadi miskin. Kekayaan dimonopoli oleh para
pejabat, anggota parlemen dan para pengusaha tamak.
Di tengah suara rintihan para pengemis dan orang-orang
terlantar, kita menyaksikan para pejabat dan orang-orang berduit dengan ayik
melancong ke berbagai negari. Mereka seolah tanpa dosa menghambur-hamburkan
uang dengan membeli barang serba mewah.
Ditengah gubuk-gubuk reot penuh tambalan kardus bekas, kita
menyaksikan gedung-gedung menjulang langit. Diantara maraknya tengadah
tangan-tangan pengemis, mobil-mobil mewah dengan santainya berseleweran.
Pemandangan kontras yang selalu memenuhi hari-hari kita.
Dimasa Umar bin Abdul azis, umat islam pernah mengalami
kejayaan. Kala itu sulit mencari mustahiq (penerima) zakat. Mereka merasa sudah
mampu, bahkan harus mengeluarkan zakat. Mereka tidak terlalu kaya. Tapi,
kekayaan dimasa itu tidak berkumpul pada orang-orang tertentu saja.
Disinilah peran zakat, infak dan shadaqah. Tak hanya untuk
‘membersihkan’ harta si kaya, tapi juga menuntaskan kemiskinan.
Jika ini tidak kita lakukan, kita belum menjadi mukmin
sejati. Sebab, seorang Mukmin tentu takkan membiarkan tetanggana kelaparan.
Rasulullah saw bersabda, “Tidak beriman seseorang yang dirinya kenyang,
sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Muslim)
(Majalah Sabili no 7 Th XIII Judul Asli: "Prihatin pada
Rakyat Miskin")